SADUR



Mengisi Botol

Pemuda itu merasa gelisah dan kesusahan dengan hidup dan masa depannya, sehingga pada suatu hari dia memutuskan untuk berjalan menyusuri pantai mencoba memecahkan beberapa masalahnya. Saat itu hari masih pagi sekali, dan pantai itu, untungnya, sepi—atau dia menduganya seperti itu. Ketika dia sampai di ujung sampai, dia melihat di kejauhan seorang laki – laki tua aneh di atas batu karang di pinggir laut. Mukanya ditekuk dan tampak sedih, dengan janggut putihdan menggunakan jubah berwarna perak, dengan corak yang aneh yang belum pernah dilihat pemuda itu sebelumnya.
Ketika pemuda itu semakin mendekat, dia memerhatikan bahwa laki – laki tua itu sangat lamban, dan dengan sangat teliti memungut batu–batu dan kerikil dari pantai. Dengan penuh rasa ingin tahu, dia naik ke batu karang tempat laki – laki tua itu duduk, dan seketika laki – laki itu menengadah dan melihat kearahnya.
“Mengapa kamu tampak begitu kesusahan ?” kata laki–laki tua itu. “Pertanyaan apa yang ingin kamu jawab ?”
Pemuda itu, terkejut dengan pertanyaan yang menyelidik, menjawab hampir tanpa berpikir lagi, “Saya tampaknya tidak dapat menyelesaikan hal yang paling penting dalam hidup saya. Begitu banyak hal yang harus dilakukan—bagaimana saya tahu apa yang harus dikerjakan lebih dahulu ?”
“Itu adalah pertanyaan yang mudah untuk dijawab,” jawab laki–laki tua itu dan sambil mengambil sebuah botol sederhana yang sudah tersapu oleh air laut, dia mulai mengisi botol itu dengan batu seukuran kepalan tangannya. Ketika mengisi botol itu hingga ke bagian atasnya, dia menoleh kearah pemuda itu.
“Apakah botol itu penuh ?”
Pemuda itu mengangguk setuju.
Laki–laki tua itu pun menganggukkan kepala tanpa berkata–kata, lalu mengambil segenggam penuh kerikil–kerikil kecil dan menuangnya kedalam botol. Dia mengguncang botol itu dengan perlahan hingga kerikil–kerikil itu dengan mudah masuk ke dalam ruang di antara batu–batu. Dia menoleh lagi ke pemuda itu sambil tersenyum.
“Sekarang, apakah botol ini sudah penuh ?”
Pemuda itu balas tersenyum dan sekali lagi setuju bahwa botol itu sudah penuh. Sekali lagi, tanpa berkata–kata, laki–laki tua itu membungkuk dan mengambil segenggam penuh pasir dan dituangkan ke dalam botol. Pasir itu mengalir mengisi semua sudut dan celah yang tersisa di antara kerikil dan batu–batu. Kali ini, tidak ada lagi ruang tersisa dan botol itu benar–benar penuh.
“Sekarang,” kata laki–laki tua itu, “inilah jawaban dari pertanyaanmu. Batu–batu itu menggambarkan hal–hal yang paling penting dalam kehidupan seseorang—apakah itu keluarga, pasangan atau anak, kesehatan, keruhanian atau kebijaksanaan jadi, jika kamu kehilangan semua yang lain dan hanya hal–hal ini yang tersisa, hidupmu masih akan terasa lengkap.”
Dia melanjutkan, “Kerikil–kerikil itu menggambarkan hal–hal lain yang berarti bagimu—mungkin hal–hal material, seperti uang, rumah, pakaian, atau pekerjaan. “Sedangkan pasir,” katanya sambil memainkan pasir yang melewati jemarinya, “adalah hal–hal lainnya.hal–hal kecil yang tidak penting.”
Melihat pemuda itu terus mendengarkan, laki–laki tua itu berkata, “Beberapa orang membuat kesalahan dengan menempatkan pasir terlebih dahulu ke dalam botol, dan jika mereka melakukannya—tentu saja tidak ada lagi ruang tersisa untuk kerikil dan juga batu–batu. Hal yang sama berlaku juga untuk hidupmu. Jika kamu menghabiskan semua waktu dan energimu untuk hal–hal yang kecil yang tidak ada kaitannya, kamu tidak akan mempunyai ruang untuk hal–hal yang benar–benar penting bagimu, yaitu hal-hal yang sangat menentukan kebahagiaanmu. Uruslah batu–batu terlebih dahulu—hal–hal yang benar–benar penting. Susunlah prioritasmu, maka yang lainnya pasir.”
-- n --

By : Hady M Aziz
Disadur dari “Tales for Changes”



0 Comments:

Post a Comment



Newer Post Older Post Home

Modified by Blogcrowds